Pak Raden dan Dolanan Bocah yang Sudah Punah

Anak-anak Desa Plana Kecamatan Somagede Banyumas sedang bermain dolanan anak di bawah terang purnama.. Sejumlah 30 dolanan anak yang sudah punah kembali dimainkan anak-anak yang diajari orang tua mereka. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)
Anak-anak Desa Plana Kecamatan Somagede Banyumas sedang bermain dolanan anak di bawah terang purnama.. Sejumlah 30 dolanan anak yang sudah punah kembali dimainkan anak-anak yang diajari orang tua mereka. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Berita tentang wafatnya Drs Suyadi atau yang dikenal dengan Pak Raden membangkitkan kembali kenangan akan masa kanak-kanak. Ditemani lagu Unintended, imajinasi tentang masa kanak-kanak itu kembali hadir dan mengada.

Pak Raden mewakili kenangan akan dunia anak-anak yang menyenangkan. Sesekali bandel dan membuat kesal orang tua. Tapi rasanya aneh, menjadi anak-anak tapi tidak nakal. Seperti pengalaman saya yang dikejar tetangga karena mencuri setandan buah pisang, sama seperti Si Unyil dan Usro mencuri buah jambu milik Pak Raden. Adegan berikutnya adalah Pak Raden yang marah-marah dan encoknya kambuh.

Dunia anak adalah dunia dolanan. Dulu, sebelum ada televisi dan gawai, setiap purnama saya dan teman-teman sebaya selalu meriung di halaman rumah. Melakukan sejumlah permainan, seperti petak umpet, gobak sodor, dan lainnya.

Kini dolanan itu tinggal kenangan saja. Menyakitkan memang, karena dolanan bocah zaman dulu itu penuh nilai-nilai filosofis seperti kegotong royongan, persaingan sehat, olah raga dan lainnya. Menyakitkan karena semua itu sudah punah kini. Lebih menyakitkan dari doi yang masih mengingat kenangan akan mantannya.

Saya terakhir melihat dolanan bocah tahun 2012 lalu. Berikut hasil kenangan itu.

Permainan siang diantaranya, benthic, damplongan, umbul, panggalan, gating, kubuk, clam clim, cis, dan komprang. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)
Permainan siang diantaranya, benthic, damplongan, umbul, panggalan, gating, kubuk, clam clim, cis, dan komprang. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)

Baca Juga: Cara Asyik Piknik di Bendung Gerak Serayu

Muka riang terlihat di wajah anak-anak desa itu. Sapuan cahaya putih sang purnama menambah keceriaan mereka. Ditambah obor bambu yang membuat latar halaman rumah itu nampak jingga menyala.

Kuwukan kuwukan kebakaran bekatul abang, ana ayam kecemplung sumur ana bedil gede dionekna, dooooorrrr.

“Ini tembang untuk mengiringi dolanan kuwukan,” ujar Wasilah, 70 tahun, warga Desa Plana Kecamatan Somagede, Banyumas.

Ia bersama Marpi, 70 tahun, dan Sati, 63 tahun, dikenal sebagai nenek trio kwek-kwek, berinisiatif mengajari anak-anak desa itu dengan dolanananak-anak. Meski sudah berumur, ketiganya dengan sabar mengajari cucu dan cicit mereka dengan dolanan bocah yang sudah puluhan tahun tak dimainkan lagi itu.

Letak desa Plana lumayan jauh dari pusat Kota Purwokerto. Di sisi kiri-kanan jalan, hampir tak ada lampu penerangan sehingga pemakai jalan harus berhati-hati agar tak terjatuh ke sawah atau sungai. Beruntung, sinar rembulan cukup membantu perjalanan.

Wasilah mengatakan, dolanan bocah memang paling pas dimainkan saat terang bulan khususnya puncak purnama. Ia berkisah, saat ia kecil, sehabis ibadah Maghrib, ia bersama puluhan teman sebayanya selalu pergi ke halaman rumah untuk bermain-main.

Bahkan menurut Marpi, jika sudah bermain mereka sampai tak ingat waktu. “Bisa sampai jam 12 malam,” katanya.

Sementara bentuk permainan malam diantaranya, litongan, sliring genting, kuwukan, endog-endogan, dudut kiradut, misikan, lepatan, uler kadut, jagoan dan jonjang. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)
Sementara bentuk permainan malam diantaranya, litongan, sliring genting, kuwukan, endog-endogan, dudut kiradut, misikan, lepatan, uler kadut, jagoan dan jonjang. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)

Baca Juga: Ajaib, Air Mineral Pemandian Kalibacin Bisa Sembuhkan Penyakit Kulit

Jika dibandingkan saat ini, kata dia, permainan anak jauh lebih sedikit. Bahkan, ia sangat membenci kegiatan cucunya jika malam hari hanya duduk manis di depan televisi untuk menonton sinetron. Menurutnya, sinetron hanya mengajarkan kebohongan dan kepalsuan hidup.

Sati menambahkan, dengan bermain di luar rumah bersama teman-temannya, cucunya bisa melatih gotong royong. Selain itu, permainan ramai-ramai itu juga bagus untuk kesehatan karena melatih seluruh organ tubuh. “Tidak ada kalah menang, semua gembira,” ujarnya.

Yusmanto, budayawan sekaligus pegiat seni desa Plana yang ikut menggerakkan anak-anak untuk ikut bermain mengatakan, setidaknya ada 30 jenis dolanan anak di desanya yang saat ini sudah tak dimainkan lagi oleh anak-anak. “Kami berinisiatif membangkitkan kembali permainan ini agar anak-anak mengenal permainan orang tua mereka,” katanya.

Sedangkan permainan di Sungai Serayu diantaranya, slipat, dendem, kunclungan, langen, dan permainan pasir. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)
Sedangkan permainan di Sungai Serayu diantaranya, slipat, dendem, kunclungan, langen, dan permainan pasir. (Slamet Nusa/Purwokertokita.com)

Baca Juga: Enam Gedung Bioskop di Purwokerto yang Kini Tinggal Nama

Ia mengatakan, ada dua jenis dolanan anak yakni jonjang atau permainan dan pertandingan. Jonjang bersifat rekreatif tidak ada kalah menang, ada gerakan dan tembang. Sementara pertandingan biasanya ada dua kelompok yang saling berhadapan dan adu strategi.

Di akhir permainan, semua bergembira dan tidak ada dendam di antara kedua kelompok. Ia sendiri menyebutkan, di Plana ada tiga genre permainan yakni permainan siang, malam dan permainan di Sungai Serayu.

Permainan siang diantaranya, bentik, damplongan, umbul, panggalan, gating, kubuk, clam clim, cis, dan komprang. Sementara bentuk permainan malam diantaranya, litongan, sliring genting, kuwukan, endog-endogan, dudut kiradut, misikan, lepatan, uler kadut, jagoan dan jonjang. Sedangkan permainan di Sungai Serayu diantaranya, slipat, dendem, kunclungan, langen, dan permainan pasir.

Masih menurut Yusmanto, dari sekian banyak permainan itu akan digali dan diwariskan ke generasi mendatang. Permainan itu akan secara berkesinambungan dilakukan oleh anak-anak.

Menurut dia, dibandingkan permainan jaman sekarang seperti game online, playstation, game pc dan lainnya, permainan jaman dahulu lebih mendidik. “Ada unsur kognitif, afeksi dan psikomotorik bagi anak-anak,” imbuhnya.

Arni, 12 tahun, mengaku senang dengan permainan yang diajarkan neneknya itu. “Lebih banyak ketemu teman bisa mengobati stress setelah belajar,” ujarnya polos.

Menurut Arni, dolanan anak yang diajarkan neneknya itu baru pertama kali ia lakukan. Selama ini, sehabis Maghrib ia lebih sering memonton televisi dibandingkan bermain bersama temannya yang lain.

Baca Juga: Inilah Alasan Jomblo Senang Eksis di Media Sosial

Slamet Nusa

X CLOSE
Advertisements
X CLOSE
Advertisements

Tinggalkan komentar