Frame 2

Petani Minta Pemerintah Dorong Semua Petani Gunakan Pupuk Organik

Potensidesa.com - Ketua kelompok Tani Makmur 2 Wawan Nugraha meminta Pemerintah untuk mengubah pola subsidi pupuk dari kimia ke organik

Sebab, dalam jangka waktu panjang, tanah di Indonesia akan mengalami titik jenuh akibat seringnya penggunaan pupuk kimia.

"Salah satu tradisi pertanian di Indonesia adalah kalau padi tak hijau itu tak puas. Agar hijau dosis pupuk ditambah sehingga unsur hara di dalam tanah akan mengalami penurunan tajam dari waktu ke waktu. Maka dalam pandangan saya nanti akan ada titik jenuh dan tanah nantinya jadi tak produktif," Kata wawan kepada potensidesa.com via sambungan telepon, Selasa (12/5/2021).

Wawan mengatakan, pada era Soeharto, pola pertanian diubah dari pertanian tradisi menjadi mekanik dan pestisida.

Demplot pengunaan pupuk organik jitu

Sekarang dunia terbalik lagi. Pertanian pestisida itu adalah ancaman bagi kehidupan ekosistem dan petani dalam jangka panjang.

"Pemerintah harus mengubah polanya. Kalau saat ini pupuk kimia dapat subsidi besar, sekarang secara harus secara memaksa rakyat untuk menggunakan pupuk organik," tandasnya.

Menurut Wawan, penggunaan pupuk organik itu dapat membuat petani mandiri. Sebab, filosofi dasar dari pupuk organik itu adalah petani mampu membuat pupuk sendiri dengan memuliakan unsur kehidupan tanah, mulai dari cacing, belut dan berbagai mikroorganisme di dalamnya.

Kemudian pupuk organik itu juga dapat membangun siklus ekologi yang berkelanjutan, yaitu dengan mengembangkan pola pupuk hijau dan pupuk kandang.

Dengan pola pupuk hijau, seluruh potensi yang ada di sawah, mulai jerami dan sejenisnya akan menjadi bagian terpenting dalam siklus kehidupan petani yang selama ini disia-siakan.

Pupuk organik Jitu rajanya Organik di Indonesia

Lalu pupuk kandang menjadikan sektor peternakan menjadi bagian terpenting pertanian. Belum ditambah lagi pola mina padi yang memanfaatkan sawah untuk perikanan. Maka di sana ada siklus ekonomi.

"Sehingga ketika petani memelihara kerbau, sapi dan domba, maka kebutuhan pokoknya adalah kotoran dan air seni. Itu produk utama untuk pupuk. Sedangkan daging itu adalah tambahan," kata Wawan

Kemudian, lanjut Wawan, petani juga menggunakan seluruh produk daun di sekelilingnya, mulai jerami dan berbagai dedaunan lainnya. Itu menjadi produksi konsumsi peternakannya, sehingga siklus ekonomi berputar hanya pada diri petani.

"Apalagi kalau nanti dikembangkan menjadi bio energi untuk gas dan listrik, itu dihasilkan dari pertanian," katanya.

Dengan pola pertanian organik ini, kata Wawan, meski petani hanya punya lahan sedikit, misalnya seperempat atau setengah hektar, tapi itu terbukti berhasil membangun kemandirian petani. Menurutnya, pengalaman ini sudah ditunjukkan oleh orangtua kita dulu.

"Orangtua kita dulu punya sawah hanya seperempat hektar dan sapi 3 ekor, tetapi dia mampu membangun siklus ekomomi sehingga anak-anaknya bisa pada sekolah, dan sekolah waktu itu tak ada subsidi. Ini yang disebut dengan kemandirian petani," tandasnya.

Terkait pupuk kimia, Wawan mengatakan, petani Indonesia harus mengubah pola pikir. Ia mengatakan bahwa pupuk kimia itu berhubungan dengan bisnis, yaitu impor bahan baku.

"Inilah yang harus diubah mindset bangsa kita, khususnya tentang pertanian. Ada kepentingan besar (dari pupuk kimia), yaitu bahan baku," katanya.

"Orang selalu berpikir impor karena ya kita jujur-juran saja, di impor itu banyak 'gulanya',"pungkas Wawan

.

Pertanian di wilayah Madura beralih ke pupuk organik JiTu

Wawan juga menyarankan kepada petani lainya untuk memakai pupuk organik JITU, sebab saya dan para petani di sini semua sudah merasakan bagaimana JITU merubah pertanian kita lebih bagus, dan hasil panen lebih memuaskan dari sebelumnya.

Bahkan menurut Wawan, Pupuk Organik JITU bisa menjadi solusi bagi para petani di Indonesia.

"Pupuk Organik JITU bisa menjadi pupuk organik andalan di pertanian, " Pungkas Wawan.

Pewarta ; Petani Makmur

Editor ; Ardyanto Rakyat

Publisher ; Rino Bayu Pratama

hello world!
magnifiercrosschevron-down