Strategi Branding Desa Wisata di Era 4.0

Webinar Strategi Branding Desa Wisata

BPO Labuan Bajo Flores menyelenggarakan webinar desa wisata bertajuk “Membangun Desa Wisata Melalui Branding di Era 4.0”. Rangkaian webinar bulanan yang diadakan setiap bulannya merupakan acara pamungkas tahun 2021 yang terbuka untuk umum, pejabat desa wisata, pegiat desa wisata, dan pengelola desa wisata di 11 kecamatan yang tergabung dalam Floratama.

Webinar seri keenam ini menghadirkan dua pembicara yaitu Sugeng Handoko selaku pengelola Desa Wisata Nglanggeran dan Hannif Andy Al Anshori selaku pendiri Lembaga Desa Wisata. Webinar ini berlangsung selama kurang lebih dua jam dan mengajak peserta untuk memahami bagaimana membangun konsep dan mengembangkan strategi branding dengan berfokus pada keunikan dan ciri khas desa wisata.

Saya mengucapkan selamat kepada Mas Sugeng Handoko atas penghargaan mereka baru-baru ini sebagai desa wisata terbaik dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB. Ini adalah langkah yang tepat bagi kita semua untuk dapat belajar dan berkomunikasi langsung dengan Mas Sugeng, Direktur BPOLBF, selama webinar.

Ia menjelaskan, pengakuan desa tersebut oleh organisasi pariwisata termasuk menjadi Desa Wisata Mandiri yang Menginspirasi dalam ajang anugerah desa wisata 2021 merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan potensinya secara berkelanjutan.

Shana Fatina pun mengapresiasi upaya survei yang dilakukan Lembaga Desa Wisata pada pertengahan tahun 2020 ini. Survei tersebut sangat bermanfaat bagi BPOLBF dalam menyusun kebijakan dan program untuk membantu sektor pariwisata di masa pandemi Covid-19, khususnya di desa-desa wisata.

Kesalahpahaman Marketing di Era 4.0

Pada sesi pertama, Hannif mencatat bahwa sering terjadi kesalahpahaman tentang Marketing 4.0. Marketing 4.0 bukanlah konsep pemasaran yang sepenuhnya bergantung pada teknologi dan internet. Dalam penerapannya, Marketing 4.0 merupakan konsep yang menggabungkan taktik pemasaran online dan offline. Dengan begitu, apa yang konsumen lihat di dunia digital pasti identik dengan apa yang mereka alami langsung di lapangan. Meskipun branding identitas digital kita berhasil, produk dan layanan di lapangan cacat, hal ini menyebabkan branding kita gagal atau tidak berkelanjutan.

Sebelum menerapkan branding melalui internet, Hanif juga meminta agar destinasi wisata di kawasan Floratama sudah memiliki media sosial Google Bisnisku. Berbekal media sosial gratis, pengelola bisa mengamati pasar dan kinerja wisatawan yang berkunjung ke desa wisata.

Informasi Desa Wisata Menggunakan Google MyBisnis

Sering kita jumpai, banyak desa wisata yang tidak memiliki catatan pengunjung yang lengkap. Ini adalah komponen dari strategi branding desa wisata generasi ke-4. Sampai saat ini, kami hanya mendokumentasikan jumlah wisatawan. Selain itu, kami belum mendokumentasikan asal daerah, usia, atau profesi mereka. Inilah mengapa penting untuk merencanakan sejak sekarang. Jika memungkinkan, dokumentasikan pengeluaran atau pengeluaran mereka selama mengunjungi destinasi wisata. Informasi ini dapat berguna bagi kami di masa mendatang, ini akan membantu kami membuat program di masa mendatang.

Hanif pun sependapat dengan pernyataan Sugeng. Dalam presentasinya, ia juga menunjukkan keefektifan media sosial dalam branding, termasuk Google Bisnisku.

Hanif mengatakan, kami juga memanfaatkan Google Bisnisku di Nglanggeran. Di sini, kita bisa mengetahui berapa banyak orang yang meminta petunjuk arah ke tujuan wisata kita. Misalnya, setiap objek wisata yang kami miliki memiliki akun Google Bisnisku.

Melalui sumber daya gratis ini, kita dapat mengamati jarak yang ditempuh baik dalam hitungan menit maupun jam. Ia menambahkan, salah satu cara penguatan brand Desa Wisata Nglanggeran adalah dengan mengajak wisatawan menjadi penjual. Sama halnya dengan menjual kecap, semua produsen akan mengklaim bahwa kecap mereka paling beraroma, paling manis. Namun, konsumen sulit percaya. Seseorang pasti memberi tahu mereka bahwa itu adalah teman atau tidak pernah menggunakan saus tomat. Ini adalah metode yang kami gunakan di Nglanggeran.

Bagaimana kami dapat memberi insentif kepada orang-orang yang telah mengunjungi lokasi kami untuk meninjau dan mempromosikannya secara sukarela melalui akun media sosial pribadi mereka. Agar hal ini terjadi, produk dan layanan di desa wisata harus berkualitas luar biasa.

Selain membuat Google Bisnisku, ada beberapa strategi Branding 4.0 yang menurut Hannif sangat penting untuk diterapkan. Salah satunya adalah memposting konten di media sosial yang harus beragam. Penggunaan media sosial di kawasan wisata minimal harus mengikuti formula 4M, yaitu menghibur, mendidik, menginspirasi, dan meyakinkan.

Penerapan Strategi Branding Desa Wisata

Selain itu, terdapat enam strategi branding yang dapat diterapkan oleh desa wisata. Pertama, dengarkan apa yang diinginkan, seperti, dan tidak diminati wisatawan. Hal ini mudah terlihat melalui profil Google Bisnisku milik Anda.

Ketiga, menyampaikan nilai-nilai intangible, seperti kualitas pelayanan, keramahan, kearifan lokal, dan sebagainya. Akhirnya, pertimbangkan kebutuhan masa depan. Ini adalah, temukan apa yang populer sekarang dan di masa depan.

Kelima, menjalin komunikasi yang terbuka antar para pihak. Hal ini menyiratkan bahwa kolaborasi merupakan metode branding desa wisata yang paling efektif. Kelima, hadirkan kesan positif baik di dunia digital maupun fisik. Keenam, setiap keberhasilan desa wisata harus dipublikasikan untuk meningkatkan nilai brand.

Sementara itu, Sugeng Handoko menegaskan akan lebih bermanfaat jika proses pengembangan desa wisata tidak hanya terfokus pada keberhasilan ekonomi. Namun harus diarahkan agar budaya dan alam desa tetap lestari. Dari sisi kelembagaan, kata Sugeng, penting membangun komunikasi dan koordinasi dengan semua pihak di daerah, termasuk pemerintah desa, hal ini juga harus dilakukan.

Kami selalu berusaha mendamaikan perkembangan bottom-up dan top-down yang bertemu di tengah. Ide-ide yang berasal dari atas ke bawah tidak bermanfaat bagi masyarakat karena ke depan hanya penonton yang akan berpartisipasi. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Kalau hanya diprakarsai dari bawah ke atas, tanpa bantuan pemerintah, akan sulit bagi kita untuk maju dalam pengembangan potensi desa wisata.

 

X CLOSE
Advertisements
X CLOSE
Advertisements

Tinggalkan komentar